Sumur Gumuling, an Underground Mosque in Kraton Golden Era

Only some people know that the building down there which is named Sumur Guluming was a usable mosque in the golden era of Kraton Yogyakarta. The words “Sumur Gumuling” mean a well that is surrounded by an Islamic congregation. The leader of the prayer does not need a speaker since the circular construction cause echoes…

HERITAGE TOURISM

Kraton Jogja has several historical buildings which is a pity to be missed by tourists. Dalem Joyokusuman, Dalem Pakuningratan, Dalem Yudonegaran, Dalem Kaneman, dan Dalem Suryaputran are several places which keep Kraton Jogja’s historical moments. You can enjoy the beauty and special structure of these buildings and know the living of Kraton Jogja (especially King’s…

Museum Sonobudoyo Unit II – Get to Know Jogja Closer

If you want to know more about Jogja in a long time ago, one of the tourist objects that you shouldn’t miss is Museum Sonobudoyo. This museum has art things and handicraft from Java, Madura, Bali, and Lombok culture. As the collection is getting more complete, the government extends its exhibition room to Dalem Condrokiranan…

Pulo Cemeti

Ketika pertama kali mendengar orang menyebut ‘Pulo Cemeti’, Anda mungkin berpikir itu merupakan sejenis pulau yang bernama Cemeti. Kenyataannya tidak demikian. Pulo Cemeti adalah peninggalan budaya berbentuk bangunan runtuh yang terletak di belakang Pasar Ngasem. Karena tinggi, saat ini orang-orang menggunakannya untuk melihat keindahan kota Yogyakarta. Anda tinggal menaiki tangganya dan akan terpana bahwa Anda…

Ndalem Condrokiranan di Jalan Wijilan

Sebelum bernama ndalem Condrokiranan, ndalem ini sempat dinamai ndalem Wijilan. Semula ndalem ini ditinggali oleh Adipati Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Mataram yang kemudian diangkat menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono III. Menggantikan beliau, ndalem menjadi milik Gusti Pangeran Wijil yang kemudian diteruskan oleh putranya yang bernama KRT Wijil, sehingga ndalem ini dikenal sebagai Ndalem Wijilan. Selanjutnya…

Ndalem Yudonegaran di Jalan Ibu Ruswo

Ndalem yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921) ini pada awalnya ditempati oleh GKR Dewi, Putri ke-38 HB VII dari permaisurinya GKR Kencono. Sekarang ini ndalem tersebut ditempati oleh GBPH Yudoningrat, Putri ke-13 HB IX dari KRAy Hastungkoro. Ndalem ini pernah dimanfaatkan sebagai Fakultas Sastra UGM sampai tahun 1960-an, sebelum akhirnya pindah…

Ndalem Wironegaran di Jalan Suryomentaraman

Dalem ini dibangun sekitar abad ke-18. Awalnya dalem ini ditinggali oleh GBPH Suryomentaraman (putra ke-55 dari Sultan Hamengku Buwono VII), kemudian ditempati oleh BRAy. Condrodiningrat (Putri ke-15 dari Sultan Hamengku Buwono VIII), sehingga pernah dikenal dengan nama Dalem Condrodiningratan. Sekarang Dalem ini ditempati oleh GKR Pembayun (Putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X) dan suaminya,…

Ndalem Suryaputran di Jalan Suryaputran

Pada masa Hamengku Buwono VI, Dalem Suryaputran merupakan tempat tinggal GPH Suryaputra. Beliau adalah putra Sultan Hamengku Buwono VI dari permaisuri. Kediaman tersebut sering kali digunakan sebagai tempat latihan kesenian Jawa. Setelah GPH Suryaputra wafat, selanjutnya oleh Sultan Hamengku Buwono VII dalem ini diberikan kepada putranya GPH Hadikusuma sehingga kemudian bangunan tersebut lebih dikenal dengan…

Ndalem Pakuningratan di Jalan Polowijan

Dalem Pakuningratan dibangun pada tahun 1877-1921 secara bertahap pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII untuk menjadi kediaman Pangeran Purboyo atau putra mahkota yang kemudian diangkat menjadi Sultan Hamengku Buwono VIII. Selama ini bangunan Dalem Pakuningratan telah mengalami 3 kali pemugaran. Pertama, tahun 1926 atas perintah Sultan Hamengku Buwono VII bangunan pendapa dihubungkan dengan…

Ndalem Mangkubumen di Jalan Kadipaten

Dibangun pada tahun 1865 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VI, Dalem Mangkubumen didirikan sebagai tempat tinggal putra mahkota atau Pangeran Adipati Anom. Setelah putra mahkota naik tahta dalem ini ditempati oleh adik kandungnya GPH Mangkubumi sehingga kemudian lebih dikenal dengan nama Dalem Mangkubumen. Setelah GPH Mangkubumi wafat, adiknya yaitu GPH Buminoto menggantikannya menempati Dalem Mangkubumen…