Batik Tulis Klasik Asal Yogyakarta


Yogyakarta, selain menyimpan banyak sekali bangunan-bangunan peninggalan sejarah, ternyata juga menyisakan hasil karya seni yang luar biasa. Batik Tulis Klasik asal Yogyakarta merupakan karya seni yang di masa kini pelestariannya cukup terancam dengan sedikitnya pengrajin Batik Tulis Klasik yang masih aktif berproduksi di kota pelajar ini.

Beberapa saat yang lalu, saat tim kami berburu potensi wisata di Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Kraton, Yogyakarta, hanya didapati beberapa orang saja. Di antaranya adalah seorang wanita berusia 74 tahun bernama Bu Darto yang hingga kini masih terus memproduksi batiknya, meskipun sehari-harinya ia bersama dengan sekitar tujuh wanita pembatik lainnya membatik di dalam Kraton Ngayogyakartahadiningrat. Pihak Kraton sendiri telah menyediakan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk pembuatan Batik. Para pengrajin tersebut dibayar per hari dan diberikan imbalan per batik yang diproduksi.

Ciri khas yang paling menonjol dari Batik Tulis Klasik asal Yogyakarta terdapat pada perpaduan tiga warnanya yaitu hitam, coklat, dan putih. Beberapa jenis motif yang paling sering diproduksi di antaranya Sidoasih, Sidomukti, Sidoluhur, Parangkesit, dan Parangrusak. Umumnya motif Sidoasih dan Sidomukti digunakan dalam acara pernikahan. Motif Sidoasih digunakan oleh mempelai laki-laki dan perempuan pada saat ijab kabul dengan kepercayaan bahwa mereka akan dapat saling mengasihi dan menyayangi seterusnya. Sedangkan motif Sidomukti dipakai saat pesta pernikahan. Mereka berpengharapan kehidupan di masa depan akan sejahtera dan langgeng.

Berikut ini beberapa tahapan pembuatan Batik Tulis Klasik:

  1. Siapkan bahan dan alat yang diperlukan, seperti kain polos ± 3 meter, canthing jenis klowong, seret loro, isen-isen, penorong, dan cecekan.
  2. Kain dasar digambari motif tertentu.
  3. Pada bagian tepi kain dikelilingi dengan garis.
  4. Motif tersebut kemudian ditebalkan dengan malam yang sudah dipanaskan.
  5. Setelah itu dilakukan pengisian pola. Lakukan beberapa kali.
  6. Kain kemudian diangin-anginkan sampai malamnya mengering.
  7. Proses pencelupan ke dalam warna hitam dilakukan.
  8. Setelah itu kembali kain diangin-anginkan.
  9. Tahap selanjutnya, batik dicelupkan ke air panas supaya malamnya luntur, sehingga bagian yang tadinya tertutup terlihat warna dasarnya.
  10. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal proses-proses di atas diulangi sekali lagi sampai pada pewarnaan terakhir dan pencelupan dengan air panas sekali lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *