Candra Laras, Berlian Yang Tersembunyi

(MENILIK KEBERADAAN CANDRA LARAS SEBAGAI KOMUNITAS SENI DI KELURAHAN PANEMBAHAN, KECAMATAN KRATON)

Di balik keremangan cahaya lampu teras sebuah gedung milik pemerintah, terdengarlah sayup-sayup alunan musik bergaya keroncong. Dengan enam orang di bagian musik dan ditambah satu orang penyanyi, lahirlah sebuah komposisi musik yang jika didengarkan akan menimbulkan ketenangan di dalam hati. Di sebelah Barat, duduk berderet penggemar jenis musik ini yang bisa dikatakan sedikit. Demikianlah situasi yang dapat ditemui di teras gedung Pengadilan Agama, Kelurahan Panembahan setiap Minggu malam antara pukul 20.00-00.00 WIB. Meskipun demikian, keadaan ini tidak menyurutkan semangat para penggemar fanatiknya untuk menghentikan ritual kegemarannya tersebut. Dinginnya udara malam dan gigitan nyamuk menjadi sahabat para pelaku seni yang hampir semuanya sudah lanjut usia ini.

Candra Laras, demikianlah mereka memberi nama untuk komunitas kecil mereka ini. Candra yang berarti “bulan”, laras berarti “irama”, merupakan salah satu komunitas seni yang mengalirkan musik gaya keroncong yang masih hidup di Kelurahan Panembahan, tepatnya di RW XVI. Berdirinya komunitas ini, tidak dapat dirunut secara detail karena komunitas ini merupakan komunitas yang mengalami pasang surut, ada kalanya berjalan tapi ada kalanya macet. Biasanya, komunitas ini mulai giat berlatih ketika memasuki bulan Juli-Agustus, sebagai persiapan untuk penyambutan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI.

Sejauh ini, komunitas Candra Laras hanya beranggotakan para lanjut usia warga RW XVI, walaupun sebenarnya keanggotaannya bersifat umum. Namun sayangnya, sampai saat ini belum ada yang tertarik ikut bergabung, entah karena tidak tahu keberadaan Candra Laras atau memang karena tidak tergugah hatinya untuk ikut melestarikannya. Anak-anak muda lebih tertarik untuk bergabung dengan band-band yang menurut sebagian orang lebih tinggi gengsinya dan lebih modern. Walaupun demikian, kondisi seperti ini tidak menyurutkan semangat para lansia ini untuk tetap menjaga kelangsungan hidup komunitas kesayangan mereka tersebut. Sebagai ujung tombak, komunitas ini memiliki Mbah Guna yang mempunyai jiwa kecintaan terhadap kesenian ini.

Demikianlah gambaran singkat mengenai suatu komunitas keroncong Candra Laras yang tetap berusaha untuk terus bercahaya walaupun redup sekalipun. Perlu kita acungi jempol kegigihan dan kecintaan para lanjut usia ini dalam mempertahankan komunitas yang mereka anggap sebagai wadah pemersatu keguyuban mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *